Bisnis kuliner berbasis sambal Lamongan ini terbukti memiliki daya tahan dan terus menggurita, menjadi penolong perut para pengemudi truk logistik antarkota, hingga wisatawan yang melintas dan mencari kenyamanan rasa pedas yang familiar di tengah perjalanan panjang.
Salah satu kedai sambal Lamongan yang dikunjungi oleh Tim Bisnis Indonesia adalah Warung Lamongan Putra Jaya 01. Rumah makan ini terletak di Jalan Lintas Sumatra, Lampung. Rumah makan ini ramai didatangi oleh pengunjung, baik warga sekitar, sopir antarprovinsi, hingga pelancong yang kebetulan melewati daerah tersebut meski berdesain kaki lima.
Rumah makan ini menawarkan berbagai menu makanan seperti ayam, bebek, ikan goreng, dan beragam jenis lauk lainnya yang tidak menjadi pembeda ketika melancong ke Sumatra. Namun, para pembeli tidak sekadar datang untuk hal itu, melainkan untuk menikmati sambal khas lamongan yang tempat asalnya berjarak ratusan kilometer dari Sumatra.
David (35) adalah pemilik kedai ini. Pria asli Lamongan, Jawa Timur ini telah merantau ke Sumatra sejak setahun yang lalu, dengan salah satu tujuan memperkenalkan makanan khas daerahnya ke daerah lain di Indonesia. Sebelumnya, dia telah bertahun-tahun berjualan di Matraman, Jakarta Timur dengan produk serupa. Kini, Sumatra menjadi tantangan baru, dengan ciri khas makanan yang berbeda dengan Jawa.
Namun, sambutan yang positif dari warga sekitar justru dia dapatkan. Dengan keahlian meracik sambal Lamongan sejak belia, kini dia bisa menjual lebih dari 100 porsi setiap harinya. Bahkan, dia hanya berjualan sejak pukul 16.00 WIB-22.00 WIB.
“Sambal lamongan ini memang dicari orang, seperti ada rasa gurih-gurih manis gitu,” katanya saat ditemui di kedainya, Minggu (28/9/2025).
Adapun sambal lamongan sebetulnya menjadi sambal yang umum ditemui di hampir banyak tempat di Indonesia. Ciri khas pedas yang tidak begitu dominan karena dipadukan dengan tomat yang telah digoreng, membuat sambal ini bisa disantap oleh sebagian besar masyarakat.
Dan David, sadar betul mengenai hal itu. Dengan berbekal pengalamannya selama 20 tahun berdagang, David telah memiliki racikan tersendiri untuk membuat sambal khas daerahnya.
Selain itu, sebagai bentuk adaptasi, dia juga menyediakan sambal rampai khas Lampung. Tujuannya sederhana: memberi pilihan berbeda bagi pembeli yang ingin tetap setia pada rasa lokal. Namun, karena nama Lamongan melekat di warungnya, para pembeli lebih memilih sambal Lamongan ketimbang sambal rampai.
“Saya coba buat sambal rampai untuk ngikutin orang di sini, laku juga. Tapi lebih laku sambal Lamongan,” katanya.
Adapun untuk mencoba sambal lamongan, para pembeli hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp25.000 per porsi. Besaran tersebut bahkan telah termasuk lauk pauk, sayuran, hingga nasi.
