The Smashing Machine: Soal Juara, Narkoba, dan Wanita


Bisnis.com, JAKARTA – Dwayne Johnson dan Emily Blunt kembali bersinar dalam fim aksi semi-dokumenter, The Smashing Machine, yang bkal taang di bioskop pekan ini. 

The Smashing Machine disutradarai dan ditulis oleh Benny Safdie, dan dibintangi oleh Dwayne Johnson, Ryan Bader, Emily Blunt, Kenny Rice, Jerin Valel, Andre Tricoteux, James McSweeney, Jonathan Corbblah, Ilan Rosenberg, dan Nick Toren. 

“The Smashing Machine” adalah drama olahraga biografi yang diadaptasi dari film dokumenter John Hyams tahun 2002, “The Smashing Machine: The Life and Times of Extreme Fighter Mark Kerr”, yang menyoroti karier Mark Kerr, salah satu pelopor di dunia seni bela diri campuran.

Sinopsis The Smashing Machine

The Smashing Machine membawakan kisah hidup Mark Kerr (Dwayne Johnson), petarung UFC di awal karier profesionalnya, sebelum seni bela diri campuran menjadi fenomena global.

Saat itu, aturan yang ada belum terlalu ketat, bahkan tanpa regulasi, dan tanpa infrastruktur di sekitar olahraga tersebut. Setelah menarik perhatian dengan rekor tak terkalahkan di Brasil, Mark setuju untuk beberapa pertarungan di Ultimate Fighting Championship (UFC) yang sedang berkembang. 

Dari sana, dia ditunjuk berangkat ke Jepang dan bergabung dengan Pride FC bersama teman dekat, pelatih, dan sesama petarung, Mark Coleman (Ryan Bader).

Namun, masalah mulai muncul di Jepang, dengan kekalahan pertamanya yang mengejutkan, akibat wasit tidak memimpin pertandingan sesuai dengan perubahan aturan terbaru. 

Rasa frustrasinya semakin parah hingga tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, yang menyebabkan kecanduan obat pereda nyeri sekelas narkoba. 

Sementara itu di rumah, rasa frustrasinya justru bertambah karena hubungannya yang terus bergejolak dengan kekasihnya, Dawn (Emily Blunt), bagaikan rollercoaster emosional yang penuh masalah. 

Hubungan mereka nampak indah di luar, namun penuh badai di dalam. Keduanya benar-benar saling mencintai tetapi sering bertengkar. Hubungan mereka tak beres, tetapi keduanya bukan penjahat dan benar-benar didasarkan atas rasa cinta. 

Dan di puncak masalahnya, hubungan mereka yang selalu panas itu juga selalu mengganggu performa Mark di atas ring tarung. 

Review The Smashing Machine

Aksi Dwayne Johnson tak perlu diragukan, dia cukup memberikan penampilan yang memukau saat memerankan Mark Kerr. 

Sebagai pegulat profesional yang beralih menjadi bintang laga, badan berotot Johnson memiliki kekuatan dan kehebatan di atas ring untuk peran seperti ini.  

Johnson juga tampak sangat nyaman memerankan Mark Kerr dalam pertarungan, yang menghasilkan beberapa adegan pertarungan yang menegangkan, direkam dengan cara yang menekankan kebrutalan.  

Namun, sisi kemanusiaan di luar ring itulah yang membuat penampilannya begitu kuat. Emily Blunt juga sama bagusnya, aktingny berhasil menghadirkan pusaran emosi pada karakter pendukung yang kritis. 

Sempat  tiba-tiba menghilang di sebagian besar babak kedua, disangka akan menjadi puncak kejayaan Mark Kerr. Namun, dia justru kembali membawa film ini tak sekadar aksi olahraga tapi juga penuh drama. 

Selain itu, dengan latar tahun 1997-2000, pengambilan gambar dan penggunaan teksturnya kasar dan berbintik-bintik menyampaikan keaslian sekaligus latar waktu yang khas.

Tren Bisnis Parfum

Scroll to Top