Bisnis.com, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organiation/WHO) baru saja merilis data pengguna rokok elektrik dengan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menjadi pengguna.
Perkiraan WHO makin “mengkhawatirkan” karena diperkirakan hampir 15 juta remaja diyakini menggunakan vape.
Dalam laporannya, yang melacak penggunaan vape dan perangkat elektronik lainnya untuk merokok untuk pertama kalinya, WHO menyatakan bahwa angka tersebut mencakup setidaknya 86 juta orang dewasa, sebagian besar berasal dari negara-negara berpenghasilan tinggi.
Namun, laporan tersebut menyatakan bahwa 14,7 juta dari total yang diyakini menggunakan rokok elektrik adalah anak-anak berusia antara 13 dan 15 tahun.
Laporan tersebut menambahkan bahwa prevalensi vaping di kalangan remaja secara global adalah 7,2%. Sebaliknya, meskipun sekitar 20,4 juta remaja melaporkan merokok, prevalensinya hanya 5,1%.
Para penulis laporan menambahkan bahwa, berdasarkan data yang tersedia dari 63 negara, tingkat penggunaan vape pada remaja usia 13 hingga 15 tahun rata-rata sembilan kali lebih tinggi daripada prevalensi di kalangan orang dewasa.
“Remaja umumnya menggunakan produk-produk tersebut pada tingkat yang lebih tinggi daripada orang dewasa,” tulis laporan tersebut.
Para penulis laporan juga mengatakan, mengingat tidak ada negara dengan survei berbasis sekolah terbaru untuk kelompok usia ini yang menemukan penggunaan rokok elektrik saat ini nol, masuk akal untuk berasumsi bahwa perkiraan WHO tersebut masih kurang akurat.
“Temuan ini tidak mengejutkan mengingat industri ini secara agresif menargetkan anak-anak dan remaja, termasuk melalui saluran digital baru yang kurang diatur.”
Etienne Krug, Direktur Departemen Penentu, Promosi, dan Pencegahan Kesehatan WHO, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “rokok elektrik memicu gelombang baru kecanduan nikotin”.
“Produk-produk tersebut dipasarkan sebagai upaya pengurangan bahaya, tetapi, pada kenyataannya, justru membuat anak-anak kecanduan nikotin sejak dini dan berisiko merusak kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun,” ungkapnya.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengatakan bahwa meskipun jutaan orang berhenti, atau tidak lagi mengonsumsi tembakau, industri tembakau justru melawan balik dengan produk-produk nikotin baru, yang secara agresif menyasar kaum muda.
Dia mendesak pemerintah seluruh negara untuk bertindak lebih cepat dan lebih tegas dalam menerapkan kebijakan pengendalian tembakau yang telah terbukti.
Sayangnya, di Indonesia masih belum ada aturan tegas untuk larangan merokok kecuali larangan menjual dan merokok di beberapa tempat publik seperti sekolah dan taman bermain anak.
Adapun, Indonesia masih menjadi negara dengan prevalensi perokok terbanyak di dunia, mencapai lebih dari 70 juta perokok aktif dengan sebagian besar adalah kaum pria.