Ragam masalah yang disorot antaralain munculnya kasus keracunan ribuan siswa yang mengonsumsi MBG tersebut.
Selain masalah keracunan, juga muncul isu tray food atau kemasan makanan yang tidak halal.
Masalah lainnya adalah menu yang jadi sorotan juga menu yang diberikan dalam program MBG ini dinilai kurang memenuhi kebutuhan gizi, yang seharusnya menjadi pokok dari program tersebut.
Soal menu MBG itu pernah disentil oleh ahli gizi dr Tan Shot Yen yang mengkritisi menu makanan MBG yang terdiri dari burger dan spageti.
“Yang dibagi adalah, adalah burger. Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia. Ada juga spageti, Gacoan, oh my god. Dan maaf, ya, itu isi burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu,” paparnya dalam rapat dengar pendapat di DPR beberapa waktu lalu.
Menurut dr Tan, menu-menu tersebut tidak memiliki nilai gizi yang seharusnya bisa dikonsumsi anak-anak sekolah.
Dia menyarankan menu MBG yang diberikan berasal dari masakan lokal di masing-masing wilayah.
Menurutnya, menu MBG bisa mengalokasikan 80% menu lokal. Semisal siswa di Papua diberikan menu ikan kuah asam, dan siswa di Sulawesi mendapatkan menu kapurung.
Bahkan, idealnya, katanya, menu MBG seharusnya mengacu pada konsep isi piringku.
Konsep inipun, sebenarnya sudah masuk dalam program Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai penyelenggaran MBG.
Mengutip laman Badan Gizi Nasional, menu MBG yang bakal disajikan Nasi, Lauk, Sayur, dan buah, tanpa susu.
Menu susu, sebagai tambahan, hanya diberikan untuk daerah-daerah yang dekat dengan sentra peternakan sapi perah, dan hanya diberikan 2-3 kali perminggu. Untuk daerah lain yang tidak dekat dengan sentra tersebut, kebutuhan kalsium dapat diganti dengan bahan pangan sumber kalsium lain dan proteinnya dapat diganti dari makanan berbahan tumbuhan.
Melansir laman kemenkes, “Isi piringku” merupakan panduan kebutuhan gizi harian seimbang, yang lahir dari perkembangan ilmu dan penyempurnaan para ahli gizi, dan disusun oleh Kementerian Kesehatan RI.
Bedanya dengan 4 Sehat 5 Sempurna adalah pola makan Isi Piringku tak hanya memberi panduan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi sekali makan, tapi juga porsi makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dalam satu hari.
Empat sehat lima sempurna sendiri pertama dicetuskan oleh Bapak Gizi Indonesia, Prof. DR. Poorwo Sudarmo pada tahun 1950. Terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah, serta susu sebagai penyempurna.
Pedoman empat sehat lima sempurna ini kemudian diganti dengan gizi seimbang sebagai pedoman kebutuhan gizi harian, serta untuk memetakan pembagian porsi makanan pokok, lauk pauk, buah dan sayur untuk sekali makan dengan memakai pendekatan isi piringku yang dilengkapi dengan panduan dalam membiasakan perilaku hidup sehat.
Dalam Isi Piringku setiap kali makan, 50 persen piring diisi dengan sayur dan buah, sedangkan 50 persen lainnya diisi dengan makanan pokok dan lauk pauk.
Berikut menu sesuai pedoman dalam Isi Piringku
1. Makanan Pokok
Sumber karbohidrat dan tenaga utama, yang didapat dari beragam bahan makanan pokok. Seperti halnya Indonesia dengan keberagaman suku, budaya dan daerahnya, bahan makanan pokok di Indonesia pun beraneka ragam, seperti beras, jagung, sagu dan umbi-umbian (ubi, talas, singkong), kentang, gandum dan produk olahannya, seperti mie, roti dan pasta.
Konsumsinya disesuaikan dengan kondisi, kebiasaan, dan budaya setempat.
Meski beragam, bahan makanan pokok ini harus memenuhi syarat-syarat berikut ini:
- Mengandung karbohidrat (HA)
- Bersifat menyenangkan
- Rasanya netral
- Harganya murah
- Mudah didapat, ditanam dan diolah
- Bisa disimpan lama
2. Lauk Pauk
Sumber protein hewani dan nabati yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lauk hewani kandungan kolesterol dan lemaknya lebih tinggi, namun memiliki kandungan asam amino yang lebih lengkap dan mudah diserap tubuh. Sedangkan lauk nabati kandungan lemak tak jenuh dan isoflavonnya lebih tinggi, namun berisiko kurang higienis dalam proses pengolahannya dari kacang-kacangan.
Contoh lauk hewani adalah daging merah (sapi, kambing, dll), unggas (ayam, bebek), ikan dan hasil laut, telur, susu dan produk olahannya. Sedangkan lauk nabati antara lain tahu, tempe, kacang-kacangan (kacang tolo, kacang tanah, kacang merah, kacang hijau)
3. Buah-buahan
Sumber serat, vitamin dan mineral yang memiliki berbagai manfaat.
Konsumsi rutin buah-buahan, seperti pisang, melon, semangka, pepaya, belimbing, apel, jambu air dan lain sebagainya untuk mendapatkan manfaat optimalnya.
4. Sayur-sayuran
Sumber berbagai nutrisi penting, seperti asam folat, potassium, karoten, zat besi, vitamin A, vitamin, C dan vitamin E, dengan kandungan air yang tinggi.
Contoh sayur-sayuran antara lain terong, timun, bayam, kangkung, buncis, brokoli, wortel, tomat, kol dan lain sebagainya.
dr Tan juga mengungkapkan punya mimpi bisa merealisasikan menu MBG seperti yang diambilnya dalam buku “Anak Sehat Indonesia”.

Menurutnya, jika siswa tidak menyukai menu sehat yang diberikan dalam MBG, solusinya bukanlah menggantinya dengan makanan yang lebih diterima, namun edukasi.
Hal tersebut, katanya, sesuai dengan Juknis penyelenggaraan bantuan pemerintah untuk program MBG tahun anggaran 2025.
Dalam juknis tersebut ditulis, edukasi pangan dan gizi diberikan oleh kedeputian bidang promosi dan kerja sama BGN melalui media sosial, dan edukasi ke sekolah-sekolah dan penerima bantuan lainnya seperti anak-anak di bawah lima tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui di tingkat kecamatan dan atau kelurahan melalui kader posyandu dan kader PKK.
Temukan produk parfum wangi tahan lama terbaik AXL
Menurut dr Tan, yang perlu dilakukan untuk menyusun menu sehat MBG tersebut adalah melakukan assessment dulu dengan penerima manfaat.
“Masalah anak-anak ini apa. Mau mendengar dan menerima input dinkes atau puskesmas dan posyandu sekitar yang sudah lebih dulu kenal masyarakat dan anak-anak di sana, kemudian susun menu yag jauh lebih sehat tapi tidak melenceng dari preferensi anak,” ujarnya.
Kemudian, lanjutnya, buat testing atau percobaan apakah penerimaan baik dengan menu yang ada, dan jadikan evaluasi.
Sementara itu, Prof. Ali Khomsan, Guru besar di bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor mengatakan bahwa sebenarnya menu dalam MBG sudah sesuai acuan gizi seimbang.
Makanan sehat menurut acuan gizi seimbang adalah makanan yang beragam, yang benar-benar ditekankan di dalam perdomaan gizi seimbang
Adapun, yang dimaksud beragam adalah komposisi menu dalam keseharian mulai dari nasi, sayur, lauk, hingga buah.
“Sebagian orang menambahkan susu itu silakan. Tapi paling enggak empat itu terpenuhi, nasi, sayur, lauk, dan buah. Oleh karena itu apa yang dipraktikkan di dalam MBG itu sebenarnya sudah memenuhi syarat keseimbangan,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (29/9/2025).
Selain itu, menu MBG dengan siklus 20 hari itu sebenarnya sudah menjadi upaya yang tepat untuk menekan atau mengurangi kebosanan anak-anak di dalam menyantap menu MBG.
