Bisnis.com, JAKARTA — Banyak orang dengan berat badan berlebih cenderung memiliki perut yang lebih buncit, dan dengan diet sekali pun, lemak ini bukanlah yang paling mudah hilang.
Lemak viseral adalah lemak perut bagian dalam yang mengelilingi organ vital seperti hati, pankreas, dan usus. Apabila menumpuk dapat meningkatkan lingkar perut yang dikaitkan dengan timbulnya risiko kesehatan serius, termasuk diabetes, penyakit jantung, stroke, dan perlemakan hati.
Saat diet atau olahraga, mustahil untuk menargetkan lemak perut secara spesifik. Namun, menurunkan berat badan secara keseluruhan akan membantu mengecilkan lingkar pinggang, dan yang lebih penting, akan membantu mengurangi lapisan lemak viseral yang berbahaya.
Mengutip Times Entertainment, ahli jantung, Dr. Pradip Jamnadas, menjelaskan bahwa asupan gula yang berlebihan meningkatkan kadar insulin, sehingga mendorong penyimpanan lemak viseral yang berbahaya.
Menurutnya, salah satu cara paling ampuh untuk mengurangi dan membakar lemak viseral adalah dengan puasa sebagai strategi ampuh untuk menargetkan lemak berbahaya ini secara efektif.
Jamnadas menjelaskan, puasa dapat menurunkan insulin dan memicu tubuh untuk membakar lemak yang tersimpan sebagai energi.
Puasa tidak hanya mengurangi lemak perut tetapi juga meningkatkan metabolisme, menurunkan peradangan, dan mendukung kesehatan jantung dan metabolisme jangka panjang.
Dr. Jamnadas menjelaskan hubungan antara asupan gula, insulin, dan lemak viseral.
Konsumsi makanan kaya gula alias glukosa akan merangsang pankreas untuk memproduksi insulin. Ketika asupan glukosa konstan, kadar insulin akan terus tinggi secara kronis, yang dapat menyebabkan resistensi insulin.
Dalam kondisi ini, tubuh membutuhkan lebih banyak insulin untuk mengelola gula darah, menciptakan lingkungan metabolisme yang mendorong penyimpanan lemak.
Dr. Jamnadas menekankan bahwa kadar insulin tinggi yang terus-menerus ini mendorong hati untuk menyimpan glukosa sebagai lemak, yang menyebabkan perlemakan hati.
Bersamaan dengan itu, tubuh memproduksi lemak baru di sekitar organ dalam, yang berkontribusi pada penumpukan lemak viseral.
Berbeda dengan lemak subkutan, lemak viseral sangat berbahaya karena membungkus organ dalam dan memicu peradangan, menjadikannya faktor risiko utama penyakit kardiometabolik.
Dr. Jamnadas memperingatkan bahwa peningkatan insulin jangka panjang juga memiliki efek merusak pada metabolisme, bahkan pada orang dengan gula darah normal.
“Setiap hormon yang bertahan lama di dalam tubuh Anda, tubuh menjadi kebal terhadapnya. Jadi sekarang Anda memproduksi banyak insulin untuk menurunkan gula tersebut,” jelasnya, dikutip Kamis (2/10/2025).
Proses yang dipicu oleh insulin ini memaksa tubuh untuk mengubah kelebihan glukosa menjadi lemak viseral, terutama di sekitar pankreas dan hati.
Insulin tinggi tidak hanya menyebabkan penyimpanan lemak tetapi juga memicu peradangan dan disfungsi metabolisme.
Seiring berjalannya waktu, lemak tersembunyi ini akan melepaskan senyawa berbahaya, mengganggu aktivitas hormon, memperlambat metabolisme, dan meningkatkan kemungkinan resistensi insulin, penyakit jantung, dan perlemakan hati, yang memperburuk kondisi kesehatan jangka panjang.
Hal ini juga dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh, mengubah hormon pengatur nafsu makan, dan mengurangi efisiensi energi, sehingga menciptakan lingkaran setan penumpukan lemak dan tekanan metabolisme.
Hal ini menjelaskan mengapa pola makan tinggi gula, bahkan tanpa kenaikan berat badan yang nyata, seringkali mengakibatkan perut membesar dan lemak visceral meningkat—risiko kesehatan tersembunyi yang sering diabaikan banyak orang
Puasa Jadi Strategi Efektif Bakar Lemak Viseral
Sejalan dengan studi yang diterbitkan di NIH membandingkan puasa intermiten yang dikombinasikan dengan pengaturan protein dengan pembatasan kalori.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok puasa intermiten mengalami penurunan massa lemak viseral sebesar 33%, dibandingkan dengan penurunan sebesar 14% pada kelompok pembatasan kalori, meskipun asupan energi dan tingkat aktivitas fisiknya serupa.
Dr. Jamnadas juga menyoroti puasa sebagai salah satu cara paling efektif untuk melawan lemak viseral.
Saat berpuasa, kadar insulin tubuh akan turun karena pankreas tidak terstimulasi untuk melepaskan insulin. Insulin yang lebih rendah memungkinkan tubuh mengakses lemak yang tersimpan sebagai sumber energi, alih-alih hanya bergantung pada glukosa dari makanan.
Tidak seperti pengurangan kalori sederhana, yang dapat memperlambat metabolisme dan menyebabkan hilangnya lemak serta otot, puasa memicu respons fisiologis yang berbeda.
Selama 12 jam pertama puasa, tubuh akan menggunakan glukosa yang tersimpan di otot dan hati sebagai glikogen.
Setelah periode ini, tubuh mulai memobilisasi cadangan lemak, dengan lemak viseral menjadi yang pertama dipecah. Hal ini membuat puasa sangat efektif dalam mengatasi lemak berbahaya dan inflamasi di sekitar organ vital.