Austad membagikan beberapa kebiasaan sederhana untuk menjaga umur panjang yang telah dia jalani selama bertahun-tahun, yang menurutnya didukung oleh sains dan pada dasarnya mungkin adalah kebiasaan yang banyak dilakukan orang tua zaman dulu, berikut ini.
Pertama, rajin bergerak. Ketika Austad masih menjadi ahli biologi lapangan, dia pergi ke Papua Nugini. Setelah mendarat, kelompoknya harus mendaki ke puncak gunung. Kepala desa memberikan tas Austad kepada putrinya yang berusia 12 tahun untuk dibawa, karena Austad akan “memperlambat mereka”.
Meskipun awalnya tersinggung, Austad bersyukur karena sudah bebas dari barang bawaan satu jam kemudian. Dia juga terkejut dengan tingkat kebugaran putrinya.
Dengan bukti nyata tersebut, Austad menyadari bahwa penduduk desa tidak pernah mengalami osteoporosis atau kondisi lain yang disebabkan oleh gaya hidup yang kurang gerak.
Itulah alasan utama mengapa dia memprioritaskan olahraga serius hampir setiap hari dalam seminggu. Dia bersepeda untuk kardio karena mengalami cidera lutut, dan berolahraga berkisar antara 40 menit hingga satu setengah jam.
Dia juga memprioritaskan latihan kekuatan, berganti-ganti area tubuh, dan selalu menyertakan beberapa latihan inti.
Berbagai penelitian mengungkapkan banyak manfaat olahraga. Bukan hanya baik untuk jantung dan paru-paru, baik untuk otot, dan menjaga tulang tetap kuat, tapi juga ada manfaat kognitif, manfaat kekebalan tubuh, dan berbagai manfaat lain yang sebelumnya tidak disadari.
Salah satu manfaat yang dia rasakan juga terkait dengan kualitas tidur. Dengan lelah berolahraga membantu meningkatkan kualitas tidurnya.
Mungkin anda tertarik dengan : Produk parfum tahan lama murah
Kedua, dia hanya makan dua kali sehari. Austad mempraktikkan pola makan terbatas waktu, seperti puasa intermiten, sebelum menjadi tren di dunia umur panjang.
Makan pertamanya seperti sarapan yang terlambat sekitar pukul 11.00, dia kemudian melewatkan makan siang, dan mengakhiri hari dengan makan malam sekitar pukul 18.00 atau 19.00.
Menurut beberapa penelitian, jadwal puasa intermiten bervariasi dan berpotensi berisiko. Namun, jadwal Austad selaras dengan ritme sirkadiannya, yang diyakini para peneliti dapat meningkatkan kesehatan metabolisme.
Dia juga umumnya mengikuti diet Mediterania, mengonsumsi banyak ikan sebagai sumber protein, mengurangi daging merah, dan mengonsumsi beragam buah dan sayur. Tapi dia tidak pernah benar-benar mengikuti satu pola diet tertentu.
Steven Austad, tertarik pada penelitian penuaan bukan karena ingin memecahkan kode untuk hidup selamanya, melainkan untuk mempelajari mengapa sel-sel sehat menua.
Dia mengatakan semakin banyak orang yang mengikuti tren anti-penuaan, seringkali dengan klaim ilmiah yang meragukan, seperti minum suplemen atau mendapatkan infus berbagai multivitamin, padahal belum tentu tubuh memerlukannya.
Austad tidak mengonsumsi suplemen, dengan alasan kurangnya bukti kuat tentang manfaat umur panjang yang dijaminnya, dan dia sesekali tetap menikmati segelas anggur.
“Jika Anda menghabiskan seluruh waktu memikirkan berapa lama Anda akan hidup, Anda akan lupa untuk hidup,” ujarnya.
