Dikira Masalah Psikis, Ternyata Tawa Wanita Ini Disebabkan Tumor Langka di Otak


Bisnis.com, JAKARTA – Tawa adalah ekspresi universal dari kegembiraan. Namun, apa jadinya jika tawa muncul secara tak terkendali, tanpa diiringi perasaan bahagia sedikit pun?

Inilah yang dialami oleh seorang wanita selama hampir seluruh hidupnya, sebuah kondisi medis langka yang membingungkan para dokter selama puluhan tahun.

Kasus yang dipublikasikan dalam laporan medis dan diliput oleh Live Science ini menyoroti sebuah dilema diagnostik yang kompleks, di mana gejala yang tampak seperti masalah psikologis ternyata berakar dari kelainan fisik di dalam otak. Kondisi ini dikenal dalam dunia medis sebagai gelastic seizures, atau “tertawa tanpa sukacita.”

Fenomena langka ini terjadi akibat lesi pada otak, terutama di area hipotalamus bagian otak yang mengatur emosi dan fungsi dasar tubuh. Dalam kasus tersebut, pasien mengalami kejang yang disertai tawa spontan, tanpa alasan emosional. Setiap episode berlangsung singkat, biasanya beberapa detik, namun dapat terjadi berkali-kali dalam sehari.

Ahli saraf menjelaskan bahwa tawa pada penderita gelastic seizures bukanlah ekspresi kebahagiaan, melainkan hasil dari aktivitas listrik abnormal di otak. “Tawa ini seperti refleks tidak dipicu oleh perasaan lucu atau senang,” tulis laporan medis yang dikutip dari LiveScience.

Selain gelastic seizures, kondisi serupa juga ditemukan pada pasien dengan Pseudobulbar Affect (PBA) gangguan saraf yang menyebabkan tawa atau tangis berlebihan tanpa kontrol emosional. Biasanya muncul setelah cedera otak, stroke, atau penyakit seperti Sklerosis Multipel (MS) dan ALS.

Gejalanya sering disalahartikan sebagai gangguan psikologis, padahal penyebab utamanya bersifat neurologis, bukan emosional. Pasien bisa tertawa keras di situasi yang tidak lucu, bahkan merasa malu karena tidak bisa menghentikannya.

Diagnosis dilakukan melalui EEG (Electroencephalogram) untuk mendeteksi aktivitas listrik di otak, serta MRI guna menemukan adanya tumor jinak atau lesi seperti hypothalamic hamartoma. Pengobatan meliputi obat antikejang, terapi perilaku, atau bahkan operasi otak jika ditemukan sumber kelainan yang jelas.

Meski jarang, fenomena “tertawa tanpa bahagia” ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara otak dan emosi manusia. Tawa yang selama ini dianggap sebagai simbol kegembiraan, ternyata bisa juga menjadi sinyal gangguan serius pada sistem saraf.

Tren Bisnis Parfum

Scroll to Top