Bisnis.com, JAKARTA – Dalam hubungan sosial, profesional maupun pribadi, kepercayaan adalah fondasi utama. Namun, ada orang yang tampak baik di depan, tetapi memiliki kebiasaan-kebiasaan halus yang perlahan mengikis kredibilitas mereka.
Mengenali pola perilaku orang yang tidak bisa diandalkan atau dipercaya sejak dini dapat menyelamatkan Anda dari kekecewaan dan sakit hati di kemudian hari.
Kebiasaan-kebiasaan di atas tidak selalu muncul secara langsung, tapi secara perlahan menimbulkan keraguan dan ketidaknyamanan dalam hubungan. Dengan mengenali pola ini sejak awal, Anda bisa menetapkan batasan, menyesuaikan ekspektasi, dan melindungi diri dari rasa kecewa berulang.
Menyikapi mereka bukan berarti menjauhi semua orang, tetapi belajar lebih bijak dalam memilih siapa yang pantas mendapatkan kepercayaan penuh.
Berikut adalah beberapa kebiasaan yang pertanda seseorang mungkin tidak layak untuk Anda percayai:
1. Menjanjikan terlalu banyak (Overpromising)
Mereka sering menjanjikan pada banyak hal dan selalu bilang “iya” agar disukai atau dianggap mampu, padahal realitanya sulit mereka penuhi. Janji mereka seringkali hanya angin lalu.
2. Terlambat secara kronis (Chronic lateness)
Sering terlambat tanpa pemberitahuan atau alasan jelas menandakan kurangnya penghargaan terhadap waktu orang lain dan tidak merasa perlu untuk meminta maaf secara tulus atas keterlambatan mereka.
3. Tidak Menepati janji ( Breaking promises)
Janji dibuat sering tetapi tidak ditepati adalah tanda jelas bahwa seseorang tidak dapat diandalkan, tidak menghargai waktu dan komitmen. Anda bukanlah prioritas bagi mereka. Menurut sebuah penelitian oleh Dr. Paul Zak, kepercayaan adalah komponen kunci dalam membentuk ikatan interpersonal yang kuat, dan melanggar janji sangat merusak kepercayaan ini.
4. Menghindar tanggung jawab (Avoiding responsibility)
Bila kegagalan terjadi, mereka cenderung mencari kambing hitam atau alasan agar tak dianggap bersalah. Menghindari tanggung jawab tidak hanya memengaruhi hubungan pribadi tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan profesional. Orang-orang yang menghindari mungkin diri mereka akan terjebak, tidak dapat berkembang atau mendapatkan rasa hormat.
5. Komunikasi buruk (Poor communication)
Sulit memberi kabar, menjawab pesan, atau menjelaskan perubahan rencana membuat orang lain berada dalam ketidakpastian. Kebiasaan ini dapat membuat frustrasi mereka yang mengandalkan komunikasi yang jelas untuk mengoordinasikan upaya. Meningkatkan keterampilan komunikasi sangat penting bagi siapa saja yang ingin meningkatkan keandalan mereka.
6. Menunda pekerjaan (Procrastination)
Keterlambatan bukan sekadar waktu, tetapi sering karena kebiasaan menunda sehingga komitmen tak terlaksana tepat waktu. Kebiasaan ini dapat menciptakan siklus stres dan rasa bersalah, karena pekerjaan menumpuk dan menjadi lebih menakutkan.
7. Perilaku tidak konsisten (Inconsistency)
Tindakan dan ucapannya sering berubah-ubah tanpa pola jelas yang membuat orang lain sulit memprediksi dan mempercayai. Ketidakkonsistenan ini dapat bermanifestasi dalam perubahan suasana hati, prioritas yang saling bertentangan, atau pengambilan keputusan yang tidak menentu.
8. Kurang perencanaan (Lack of planning)
Tanpa rencana yang matang, banyak hal gagal atau diabaikan, ini menunjukkan kedewasaan yang rendah. Perencanaan melibatkan penetapan tujuan yang jelas dan menguraikan langkah-langkah untuk mencapainya, yang penting untuk mengelola waktu dan sumber daya secara efektif. Kurangnya perencanaan adalah cara yang pasti untuk tampil tidak dapat diandalkan.
9. Mudah terganggu / sulit fokus (Being easily distracted)
Perhatian mudah terpecah, sehingga proyek atau tugas bisa tertinggal atau dikesampingkan. Ketika seseorang mudah terganggu, mereka berjuang untuk menyelesaikan tugas tepat waktu atau melihat tugas sampai akhir. Kebiasaan ini bisa sangat membuat frustrasi bagi orang lain yang mengandalkan mereka untuk memberikan hasil.
10. Kurangnya empati / mengabaikan perasaan orang lain
Mereka meremehkan bagaimana kata dan tindakan mereka mempengaruhi orang lain, hal ini menunjukkan kurangnya empati.