Kantor Staf Presiden sebelumnya mengungkap data terbaru terkait kasus keracunan makanan dalam program MBG. Data dari BGN menunjukkan, sebanyak 46 kasus dengan 5.080 orang mengalami keracunan per 17 September.
Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ada sebanyak 60 kasus dengan 5.207 penderita per 16 September, sedangkan BPOM melaporkan 55 kasus dengan 5.320 penderita per 10 September.
Prof. Ali Khomsan, Guru besar di bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor mengatakan bahwa sebenarnya menu dalam MBG sudah sesuai acuan gizi seimbang.
Makanan sehat menurut acuan gizi seimbang adalah makanan yang beragam, yang benar-benar ditekankan di dalam perdomaan gizi seimbang.
Adapun, yang dimaksud beragam adalah komposisi menu dalam keseharian mulai dari nasi, sayur, lauk, hingga buah.
“Sebagian orang menambahkan susu itu silakan. Tapi paling enggak empat itu terpenuhi, nasi, sayur, lauk, dan buah. Oleh karena itu apa yang dipraktikkan di dalam MBG itu sebenarnya sudah memenuhi syarat keseimbangan,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (29/9/2025).
Selain itu, menu MBG dengan siklus 20 hari itu sebenarnya sudah menjadi upaya yang tepat untuk menekan atau mengurangi kebosanan anak-anak di dalam menyantap menu MBG.
Namun, terkait dengan tingginya kasus keracunan, ada beberapa hal yang bisa ditinjau oleh pemerintah dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, bukan hanya soal kecukupan gizinya.
Ketahui Produk parfum tahan lama Indonesia
Pertama, kata Prof. Ali, adalah sanitasi sumber air yang digunakan SPPG, dari mana air itu bisa berasal, apakah air PAM atau air sumber lain.
Kedua adalah terkait makanan basi, karena porsi yang disediakan sangat banyak.
“Basi itu mungkin saja terjadi karena masakan itu disiapkan sejak dini hari. Dari jam 3 sudah mulai dimasak, kemudian didistribusikan sekitar jam 10 atau jam 11. Dengan masa tunggu yang cukup lama. Kalau di SPBG tidak tersedia hot atau cool storage, maka itu bisa berdampak pada makanan yang basi,” jelasnya
Makanan basi, lanjutnya, bisa membawa mikroba atau menyebabkan keracunan.
Ketiga adalah persoalan yang terkait dari teknik memasak, dan suhu memasak yang tepat.
“Ketika makanan itu dimasak tapi tidak memperhatikan suhu yang baik, dan kemudian tidak atau kurang matang, maka itu bisa menimbulkan persoalan keracunan,” tegasnya.
Adapun, bakteri penyebab keracunan masih dianalisis di laboratorium. Prof. Ali berharap, dengan diketahui bakteri atau mikroba penyebabnya, bisa diketahui titik kritisnya di mana keracunan itu terjadi.
“Karena keracunan bisa juga terjadi bukan dari makanannya saja, tapi juga dari pekerja atau orang-orang yang tidak higienis di dalam melakukan proses masak dan kemas makanan,” tambahnya.
Menurutnya, dalam hal masalah MBG ini tidak hanya diawasi oleh ahli gizi, tapi juga penting bagi kepala koki di dapur SPPG untuk mempunyai sertifikat atau pernah dilatih tentang aspek keamanan makanan.
“Kalau dari gizinya itu sudah diatur, sudah dirumuskan oleh para ahli gizi di setiap SPPG, sehingga memenuhi syarat yang diharuskan untuk memberi kontribusi kisi bagi anak SD, SMP, SMA, dan anak-anak usia dini, ibu hamil, dan ibu menyusui,” imbuhnya.
