Mengenal Terapi Intravena dan Teknologinya


Bisnis.com, JAKARTA – Terapi IV atau intravena merupakan salah satu metode pemberian obat dengan cara infus atau injeksi pada pembuluh darah vena. 

Pada dasarnya tidak hanya obat saja yang bisa diinjeksi ke dalam pembuluh vena dengan terapi ini. Nutrisi, cairan, dan vitamin pun juga bisa dimasukkan ke dalam tubuh dengan metode ini.

Saat ini, sebagian besar prosedur IV di Indonesia masih menggunakan kateter berbahan dasar teflon material yang sudah dipakai selama puluhan tahun di seluruh dunia.

Padahal, saat ini telah tersedia alternatif yang lebih maju, seperti polyurethane dan BD Vialon™ Material dari BD, yang lebih biokompatibel, fleksibel, dan dirancang untuk mengurangi risiko komplikasi.

Hari Nurcahyo, Country Business Director Becton Dickinson (BD) Indonesia mengatakan terapi intravena (IV) merupakan prosedur medis penting yang setiap hari menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Namun, di Indonesia, tantangan terkait keselamatan pasien masih menjadi perhatian serius yang membutuhkan penanganan bersama.

Dia menambahkan, penggunaan material lama masih dipengaruhi bukan hanya oleh faktor biaya, tetapi juga regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menjadi tantangan tersendiri.

“Dalam regulasi TKDN, mayoritas masih menggunakan teflon. Angkanya lebih dari 65 persen,” jelasnya.

Menurutnya, pemilihan material kateter bukan sekadar soal performa melainkan berdampak langsung pada keselamatan pasien. Hari menyoroti tingginya tingkat flebitis, yaitu peradangan vena yang menyakitkan dan berpotensi serius, yang lebih sering terjadi pada kateter teflon yang kaku.

“Dengan teflon, risiko flebitis cukup tinggi. Dengan material yang lebih aman, risiko itu bisa ditekan hingga 30–50 persen,” ujarnya.

Hari menjelaskan, kateter IV sebagai benda asing yang dimasukkan ke dalam aliran darah dapat memicu respons imun dan peradangan. Material yang lebih fleksibel mampu mengikuti anatomi dan pergerakan alami vena, sehingga mengurangi iritasi, rasa tidak nyaman pada pasien, serta risiko flebitis dan komplikasi lain. Komplikasi juga berarti munculnya biaya tersembunyi. Karena itu, Hari menekankan pentingnya melihat dampak jangka panjang, bukan hanya biaya awal.

“Meski harga sebuah kateter mungkin lebih murah, bila harus sering diganti dibanding kateter dengan harga lebih tinggi, maka efisiensi biaya tidak tercapai dan justru menimbulkan biaya berlipat,” paparnya.

Hari menegaskan bahwa pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU) membutuhkan kateter berkualitas tinggi dengan daya tahan lebih lama, sehingga mengurangi kebutuhan pemasangan ulang. Sementara di departemen lain yang hanya memerlukan terapi IV jangka pendek, teknologi lama mungkin masih dapat digunakan dengan risiko relatif rendah.

“Karena itu, untuk pasien berisiko tinggi, lebih tepat menggunakan teknologi yang lebih maju agar hasil klinis lebih baik,” tegasnya.

Standar semacam ini akan memastikan terapi IV tidak diterapkan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kapasitas dan konteks masing-masing fasilitas layanan kesehatan baik klinik, puskesmas, maupun rumah sakit.

Untuk mewujudkan solusi yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan, sektor swasta perlu berkolaborasi dengan pemerintah, regulator, serta tenaga kesehatan dalam mendukung transformasi layanan kesehatan di Indonesia.

Hari tetap optimistis bahwa dengan pendekatan berbasis risiko dan konsep 3P—Policy (regulasi yang tepat), Practice (pelatihan yang konsisten), dan Product (penggunaan teknologi yang sesuai)—Indonesia dapat mulai memodernisasi standar terapi IV secara bertahap, berkelanjutan, dan kolaboratif.

Tren Bisnis Parfum

Scroll to Top