Bisnis.com, PALEMBANG — Sugeng Rawuh akan menjadi sapaan pertama yang terdengar begitu pengunjung menginjakkan kaki di Museum Batik Yogyakarta, yang berdiri di Jalan Dr. Sutomo No. 13A, Bausasran, Danurejan.
Tampak sederhana menyerupai sebuah rumah tinggal, museum ini memiliki dinding luar berwarna putih krem bersih, berpadu dengan pintu dan jendela cokelat yang bernuansa khas arsitektur Jawa dan kolonial.
Namun, di balik kesederhanaan bangunannya, tersimpan kisah penuh makna dari sepasang suami istri, Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih, yang menjadi pendiri museum ini.
Dari tangan merekalah lahir gagasan menghadirkan ruang yang bukan sekadar penyimpan kain batik, melainkan juga pusat pelestarian dan edukasi. Harapannya sederhana namun penting, agar batik tetap hidup, dikenang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Begitu melangkah masuk, pengunjung seolah diajak menembus lorong waktu. Di sana tersaji beragam koleksi batik, mulai dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Karya-karya dari sejumlah tokoh pun turut dipamerkan, memperlihatkan kekayaan estetika sekaligus filosofi yang melekat pada setiap helai kain.
Tak hanya kain batik, museum ini juga memamerkan berbagai peralatan membatik, mulai dari canting hingga cap batik berbahan tembaga.
Setiap alat hadir dengan cerita penggunaannya, mengajarkan bahwa batik bukan sekadar motif, melainkan proses panjang yang sarat makna.

Mengetahui Jenis Batik
Saat tim Bisnis berkunjung, senyum ramah Didik menyambut hangat di pintu masuk. Ia adalah salah satu pemandu di Museum Batik Yogyakarta.
Usai bercerita tentang awal berdirinya museum, Didik melanjutkan penjelasan mengenai beragam jenis batik. Tangannya kemudian menunjuk ke arah selembar kain yang disampirkan pada sebuah alat di ujung ruangan.
“Batik itu ada dua jenis, ada batik tulis, yang proses pembuatannya menggunakan canting. Karena caranya dituliskan langsung di atas kain, maka disebut batik tulis,” ujarnya sambil menunjuk kain tersebut.
Proses pembuatan batik tulis dilakukan sepenuhnya secara manual, yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian.
Pembuatan batik pada satu lembar kain bisa memakan waktu hingga setengah bulan lamanya. Kerumitan inilah yang membuat harga batik tulis jauh lebih tinggi dibandingkan jenis batik lainnya.
“Kalau batik tulis harganya mulai Rp600.000 itu yang paling sederhana, sampai jutaan atau puluhan juta,” kata Didik.
Jenis batik kedua adalah batik cap. Seperti namanya, pembuatan batik ini menggunakan alat cap yang terbuat dari tembaga.
Meski proses pembuatan lebih cepat, sekitar satu minggu, batik cap biasanya hanya diproduksi dalam jumlah yang banyak, seperti misalnya pemesanan seragam.
“Kalau mau cap satu lembar itu bisa rugi, ya. Karena kita harus memanaskan alatnya,” jelasnya.
Harga yang dibanderol untuk batik cap sendiri mulai dari Rp200.000 per lembar hingga lebih, tergantung dengan detailnya.

Rahasia Keaslian Batik
Perkembangan zaman membawa banyak kemudahan, termasuk dalam dunia batik. Kini, berbagai alat modern diciptakan untuk mempercepat proses membatik.
Di pasaran pun, batik dalam bentuk printing semakin menjamur dan mudah ditemukan. Namun, pertanyaannya apakah batik seperti itu bisa disebut batik asli?
Di sela-sela menunjukkan koleksi kain yang tersusun rapi di Museum Batik Yogyakarta, Didik, sang pemandu, membocorkan rahasia di balik keaslian batik.
“Batik yang asli harus dibuat menggunakan lilin atau malam batik. Kalau tidak pakai ini, bukan batik,” ujarnya tegas.
Ternyata, pembuat malam batik juga tidak bisa sembarangan. Bahan itu terbuat dari lilin mati lampu atau parafin hasil olahan minyak bumi yang kemudian dicampur dengan getah damar dari pohon pinus dan lilin lebah.
Campuran inilah yang menciptakan aroma khas serta tekstur malam yang lentur, mudah mencair, namun tetap kuat menempel di kain.
Dari bahan sederhana itu, lahirlah goresan batik yang bukan sekadar motif, tetapi juga karya yang menyimpan proses panjang dan ketelatenan.