Pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) bersama Bea Cukai AS mendapati jejak radiasi pada produk tersebut. Penolakan terjadi di pelabuhan Los Angeles, Houston, Savannah, hingga Miami.
Investigasi berlanjut ke dalam negeri. Tim gabungan kemudian menelusuri rantai pasok hingga tiba di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang. Di lokasi penampungan logam bekas, ditemukan material yang positif mengandung Cs-137.
Lantas, apa itu senyawa radioaktif Cs-137 dan efeknya terhadap manusia?
Apa itu Cesium-137?
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Cs-137 adalah hasil dari proses fisi nuklir yang juga muncul sebagai produk sampingan dari uji coba senjata nuklir maupun kecelakaan reaktor nuklir, seperti bencana Chernobyl pada 1986.
Cs-137 memiliki waktu paruh 30,17 tahun dan meluruh dengan memancarkan radiasi beta serta gamma. Dalam bentuk murni, Cs-137 berwujud cair pada suhu ruang, namun umumnya mudah berikatan dengan klorida sehingga menjadi serbuk kristal putih. Dalam kondisi tertentu, zat ini bahkan dapat memancarkan cahaya.
Penggunaan dan Asal-usul Cs-137
Zat ini digunakan secara luas dalam dunia medis dan industri. Dalam jumlah kecil, Cs-137 dipakai untuk mengkalibrasi peralatan deteksi radiasi, seperti Geiger-Mueller counter.
Dalam jumlah besar, Cs-137 digunakan pada terapi radiasi kanker, proses sterilisasi medis, hingga perangkat industri untuk mengukur aliran cairan dalam pipa atau ketebalan material seperti kertas, film, maupun logam.
Cs-137 diproduksi dari fisi nuklir di reaktor atau uji coba senjata nuklir. Sisa paparan Cs-137 juga masih dapat ditemukan di lingkungan akibat uji coba nuklir pada era 1950-an dan 1960-an.
Risiko Paparan bagi Manusia
CDC mencatat, paparan harian Cs-137 dalam jumlah kecil memang ada di lingkungan, tetapi tidak menimbulkan bahaya langsung. Risiko besar muncul jika zat ini tersebar dari wadah khususnya, misalnya akibat kebocoran atau kecelakaan.
Efek kesehatan akibat radiasi sangat ditentukan oleh intensitas, durasi paparan, serta jenis sel tubuh yang terdampak. Apabila Cs-137 berasal dari sumber radiasi dengan tingkat tinggi, paparan langsung dapat memicu penyakit radiasi akut yang ditandai mual, kelelahan, muntah, kerontokan rambut, bahkan berujung kematian bila dosisnya mencapai sekitar 1 sievert.
Sementara itu, paparan internal melalui pernapasan atau makanan akan membuat Cs-137 tersebar ke jaringan lunak tubuh, terutama otot. Kondisi ini meningkatkan risiko kanker akibat paparan partikel beta dan radiasi gamma berkekuatan tinggi.
Adapun sumber Cs-137 yang dipakai untuk keperluan kalibrasi di observatorium tergolong rendah dan tidak berbahaya dalam konteks serupa. Namun, bila Cs-137 masuk ke dalam tubuh, zat radioaktif ini akan tersimpan di jaringan otot dan berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Sementara itu, Dr. Hariadi Wibisono Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) mengatakan bahwa zaman sekarang, di dalam teknologi pengemasan atau pengawetan untuk transportasi, kontaminasi bahan berbahaya sudah tidak bisa dihindari, sehingga tidak menjadi masalah jika tidak dikonsumsi dalam jangka panjang atau dalam batas aman.
“Menurut saya teknologi sekarang memang telah memberikan paparan radiasi tentunya dalam dosis yang aman. Saya tidak bisa menjawab berapa dosis aman, tapi kalau konsumsi jangka panjang menurut saya rasanya seseorang tidak mungkin mengkonsumsi udang itu dalam jumlah banyak dan jangka panjang,” katanya kepada Bisnis, Rabu (1/10/2025).
Sementara itu, Dr. Roni Nugraha, dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, menyebutkan bahwa kontaminasi itu bukan berasal dari proses produksi maupun pengolahan udang di perusahaan perikanan.
“Ini sebenarnya bukan pencemaran dari industri perikanan. Berdasarkan penelusuran Badan Pengawas Tenaga Nuklir [Bapeten] dan Kementerian Kelautan dan Perikanan [KKP], cesium ini terbawa udara dari aktivitas peleburan logam di sekitar lokasi. Jadi sifatnya eksternal, bukan dari sistem pengolahan udang,” jelasnya.
Baca mengenai Parfum Tahan Lama Indonesia
Roni juga menjelaskan bahwa cesium adalah radioaktif buatan yang tidak ada di alam bebas, sehingga kerap kali tidak masuk dalam poin kontrol di SOP perusahaan perikanan.
Namun, dia menegaskan bahwa bahwa kadar cesium yang ditemukan juga jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan FDA. Mengutip FDA, kadar yang ditemukan sekitar 68 Bq/kg, sedangkan batas aman konsumsi ada di kisaran 1.200 Bq/kg.
“Artinya, secara teknis masih jauh dari level berbahaya. Namun karena prinsip kehati-hatian, FDA tetap meminta produk itu ditarik dari pasar,” katanya melalui keterangan resmi IPB University
